Friday, October 18, 2019

KELAS XII : PERTEMUAN KE- 5 (Strategi Dakwah Walisanga)

B. Strategi Dakwah Walisanga

1. Maulana Malik Ibrahim

Maulana Malik Ibrahim pada awal dakwahnya menggunakan pendekatan kekeluargaan dengan menawarkan putrinya untuk diperistri Raja Majapahit. Upaya ini rupanya tidak berhasil, karena belum sampai tujuan, rombongan terkena serangan penyakit hingga banyak yang meninggal. Namun demikian tantangan ini rupanya tidak menyurutkan tekad Maulana Malik Ibrahim untuk berdakwah untuk mengislamkan kerajaan Majapahit.

Pada langkah berikutnya Maulana Malik Ibrahim mengambil jalur pendidikan dengan mendirikan pesantren. Dinamakan pesantren karena merupakan tempat belajar para santri. Upaya pendidikan di pesantren oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim dimaksudkan untuk menampung dan menjawab permasalahan-permasalahan sosial keagamaan serta menghimpun santri. Karena komitmen dan konsistensinya dalam mendakwahkan Islam, Maulana Malik Ibrahim dipandang sebagai “Bapak (Ayah) Spiritual Walisanga”.

2. Sunan Ampel (Raden Rahmatullah)

Dalam tahap awal misi dakwahnya, Sunan Ampel membangun pesantren di Ampel Denta, dekat Surabaya. Pada pesantren yang diasuhnya Sunan Ampel mendidik kader-kader da'i yang kemudian disebar ke seluruh Jawa. Sunan Ampel telah mendidik murid-murid yang terkenal antara lain Sunan Bonang dan Sunan Drajat yang tak lain keduanya adalah putra Sunan Ampel sendiri, Maulana Ishak, Sunan Giri, dan Raden Patah (Sultan Demak).

Sunan Ampel dikenal sebagai negarawan, tokoh yang mempunyai gagasan dan perencana berdirinya kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Menurut bukti sejarah Sunan Ampel sebagai orang yang mengukuhkan Raden Fatah sebagai sultan pertama Kesultanan Demak Bintoro. Pada akhirnya kesultanan Demak Bintoro menjadi pusat penyebaran Islam ke seluruh wilayah Indonesia. Kesultanan Demak Bintoro menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan kemasyarakatan. Masjid Masjid Demak didirikan pada tahun 1478 yang diprakarsai oleh Sunan Ampel bersama dengan para Walisanga.

3. Sunan Bonang (Raden Maulana Makhdum Ibrahim)

Sunan Bonang sangat memperhatikan tradisi dan budaya masyarakat yang telah berkembang. Saat itu masyarakat Jawa memiliki kegemaran terhadap seni pewayangan yang ceritanya diambil dari ajaran Hindu dan Budha. Para wali berusaha keras untuk mewarnai dan menggubah ajaran masyarakat pada saat itu dengan menciptakan tembang atau syair yang berisi ajaran tauhid dan peribadatan. Setiap bait selalu diselingi dengan syahadatain (dua kalimat syahadat), sehingga kita sekarang mengenal gamelan sekaten, yaitu pengucapan masyarakat Jawa terhadap syahadatain. Salah satu tembang ciptaan Sunan Bonang adalah tembang durma, sejenis macapat yang menggambarkan suasana tegang, bengis, dan penuh amarah dalam kehidupan dunia yang fana.

Karya yang berupa catatan-catatan pengajaran Sunan Bonang dikenal dengan Suluk Sunan Bonang atau Primbon Sunan Bonang. Suluk atau primbon hasil karya Sunan Bonang berbentuk prosa dalam gaya Jawa, namun penggunaan kalimat-kalimatnya banyak sekali dipengaruhi bahasa Arab. Diantara karya lainnya, adalah Sekar Damarwulan, Primbon Bonang I dan II, dan Serat Wragul.

4. Sunan Kalijaga (Raden Mas Syahid)

 Sunan Kalijaga dikenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, berpandangan luas, berpikiran tajam, intelek, cerdas, kreatif, ivovatif dan dinamis, serta berasal dari suku Jawa asli. Dalam menyebarkan dakwahnya, Sunan Kalijaga tidak menetap di suatu daerah. Raden Mas Syahid senantiasa berkeliling dari satu daerah ke daerah lain, sehingga wilayah dakwah Sunan Kalijaga sangat luas. Raden Mas Syahid dianggap mampu menerapkan sistem dakwah yang cerdas dan aktual, banyak orang dari golongan bangsawan dan cendekiawan memberikan hormat dan simpati terhadapnya, mudah diterima oleh semua kalangan masyarakat, mulai rakyat bawah hingga kalangan atas bahkan para penguasa.

Sunan Kalijaga sebagai orang yang paling berjasa menggunakan pendekatan kultural dalam berdakwah, termasuk di antaranya wayang dan gamelan sebagai media dakwah. Sunan Kalijaga mengarang berbagai cerita wayang yang Islami, khususnya yang bertemakan akhlak atau budi pekerti. Hobi masyarakat Jawa terhadap wayang dapat dimanfaatkan Sunan Kalijaga sebagai media menyebarkan dakwah Islam.

Dalam bidang budaya Sunan Kalijaga membolehkan pembakaran kemenyan (untuk mengharumkan ruangan). Semula pembakaran kemenyan menjadi sarana dalam upacara penyembahan para dewa tetapi oleh Sunan Kalijaga fungsinya diubah sebagai pengharum ruangan ketika seorang muslim berdoa. Dengan suasana ruangan yang harum itu, diharapkan do'a dapat dilaksanakan dengan lebih khusyuk.

Sunan Kalijaga juga terkenal sebagai seniman, ahli dalam seni suara, seni ukir, kesusastraan seni busana, dan seni pahat. Salah satu hasil karya Sunan Kalijaga adalah dalam seni batik, corak batik yang diberi motif burung merupakan buah karya Sunan Kalijaga. Burung dalam bahasa Kawi disebut kukila. Kata tersebut ditulis dalam bahasa Arab menjadi qu Artinya jagalah dan qila artinya diucapkan dan bila digabungkan maka maksudnya adalah “peliharalah upacanmu sebaik-baiknya”, yang menjadi salah satu ajaran etnik Sunan Kalijaga melalui corak batik.

5. Sunan Giri (Raden ‘Ainul Yaqin)

Sunan Giri mendirikan pesantren di daerah Giri sebagai basis dalam menyebarkan dakwah Islam. Dan mayoritas santrinya yang diasuh berasal dari masyarakat golongan ekonomi tidak mampu. Dari pesantren milik Sunan Giri ini lahir da'i-da'i yang kemudian mereka menyiarkan agama Islam ke luar Pulau Jawa, seperti Madura, Ternate, Bawean, Kangean, dan Tidore.

Sunan Giri terkenal sebagai seorang pendidik yang mampu menerapkan metode permainan yang bersifat agamis. Karya- karyanya berupa permainan atau tembang anak-anak di antaranya Gula Ganti, Jamuran, Jelungan, Jor, dan Cublak-cublak Suweng.

 

6. Sunan Drajad (Raden Qasim)

Raden Qasim (Sunan Drajat) melaksanakan dakwah dengan membuat pusat belajar agama Islam di Lawang dan Sedayu pedukuhan Drajad masuk wilayah kabupaten Lamongan sekarang. Dalam bidang kesenian beliau menggubah tembang Jawa macapat pangkur dan juga memainkan wayang sebagai dalang. Gamelan Singo Mangkok yang masih tersimpan di museum makam sunan Drajad sebagai bukti bahwa beliau berdakwah lewat kesenian.

Selain kesenian Sunan Drajad dikenal sangat dermawan dan berjiwa sosial tinggi, beliau membuat pepali pitu (tujuh ajaran) yang menjadi pijakan kehidupan bermasyarakat. Pertama, memangun resep tyasing sasama (kita selalu membuat senang hati orang lain). Kedua, jroning suko kudu eling lan waspodo (dalam suasana gembira hendaknya tetap ingat Tuhan dan dan selalu waspada). Ketiga, laksitaning Subrata tan nyipta marang pringga bayaning lampah. (dalam upaya mencapai cita-cita luhur jangan menghiraukan rintangan). Keempat, meper hardening pancadriya (senantiasa berjuang menekan gejolak nafsu inderawi). Kelima, henenghening-henung (dalam diam akan dicapai keheningan dalam hening akan mencapai jalan kemuliaan). Keenam, Mulya guna panca waktu (kemuliaan lahir batin dicapai dengan menjalani salat lima waktu). Ketujuh, wenehono teken mawang wong kang wuto (berikan tongkat pada orang yang buta), wenehono mangan marang wong kang luwe (berikan makan pada orang yang lapar), wenehono busana marang wong kang wuda (berikan pakaian pada orang yang tidak mempunyai pakaian), wenehono ngiyup marang wong kang kudanan (berikan tempat berteduh bagi orang yang kehujanan).

7. Sunan Kudus (Raden Ja’far Shadiq)

Sunan Kudus menjadi salah satu dari para wali yang merasakan pengalaman belajar di Baitul Maqdis, Palestina. Pada saat berada di Baitul Maqdis, ia berjasa memberantas penyakit yang banyak menelan korban. Berkat jasanya, Sunan Kudus diberi ijazah wilayah (daerah kekuasaan) di Palestina. Setelah pulang ke Jawa, ia mendirikan sebuah masjid di daerah Loran pada tahun 1549. Masjid inilah yang sampai sekarang terkenal dengan nama Masjid Al-Aqsa atau Al-Manar. Kemudian Sunan Kudus mengganti nama daerah sekitar masjid menjadi Kudus, yang diambil dari nama sebuah kota di Palestina, yaitu Al-Quds.

Sunan Kudus dalam melaksanakan dakwah menggunakan pendekatan budaya, beliau juga memainkan peran sebagai sosok pujangga yang menciptakan berbagai lagu dan cerita keagamaan. Karyanya yang paling terkenal adalah Gending Maskumambang dan Mijil. Sunan kudus merupakan sosok yang sangat menghargai kearifan lokal, beliau melarang penyembelihan lembu bagi masyarakat muslim di Kudus. Larangan ini adalah bentuk toleransi terhadap adat istiadat serta watak masyarakat setempat yang sebelumnya masih kuat dengan agama Hindunya. Dalam keyakinan Hindu, lembu termasuk binatang yang dikeramatkan dan suci.

8. Sunan Muria (Raden Umar Said)

Sunan Muria dalam berdakwah memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri, yaitu menjadikan desa-desa terpencil sebagai medan dakwah Islamnya. Sunan Muria dikenal sebagai wali yang lebih gemar menyendiri, bertempat tinggal di desa terpencil, dan bergaul dengan rakyat kebanyakan. Sunan Muria memberikan pengajaran kepada masyarakat di sekitar Gunung Muria dengan mengadakan kursus-kursus bagi para pedagang, nelayan, UJI PUBLIK SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM KELAS XII 39 ataupun masyarakat kecil lainnya. Sunan Muria juga merupakan pendukung setia Kesultanan Demak dan ikut andil dalam pendirian Masjid Demak. Beliau memiliki karya tulis yang masih digemari hingga saat ini, yaitu tembang sinom dan kinanti.

9. Sunan Gunung Jati (Raden Syarif Hidayatullah)

Sunan Gunung Jati banyak menghabiskan sebagian waktunya untuk melakukan Jihad dalam rangka melawan dan mengusir Portugis dari bumi Indonesia. Hal ini dilakukan dengan menggabungkan kekuasaan Banten dan Demak sehingga memiliki kekuatan yang diperhitungkan, pada peperangan pertama, pasukan Islam mengalami kekalahan yang sangat fatal, namun berikutnya ketika Portugis mendarat kembali di Sunda Kelapa, pasukan Islam berhasil menumpas perlawanan pasukan Portugis, sehingga Sunda Kelapa diubah menjadi Jayakarta.

Oleh sebagian para sejarawan, Sunan Gunungjati dikenal sebagai peletak konsep negara Islam modern ketika itu, dengan bukti berkembangnya Kesultanan Banten sebagai negara maju dan makmur mencapai puncaknya 1650 hingga 1680. Atas jasa-jasanya yang sangat besar terhadap bangsa, umat Islam di Jawa Barat memanggilnya dengan nama lengkap Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Rahimahullah.

KELAS XII : PERTEMUAN KE- 4 (Biografi Walisanga)

A.    Biografi Walisanga

Bagi masyarakat muslim Indonesia sebutan Walisanga memberikan makna khusus terhadap keberadaan tokoh-tokoh yang berperan penting dalam pengembangan Islam pada abad ke -15 hingga 16 Masehi di pulau Jawa. Kehadiran Walisanga dengan ajaran-ajarannya memiliki pengaruh yang kuat dalam masyarakat Islam di Jawa. Masyarakat Jawa memanggil Sunan kepada para Walisanga. Kata Sunan atau Susuhunan berasal dari kata suhun-kasuhunsinuhun berarti yang dijunjung tinggi/ dijunjung di atas kepala juga bermakna paduka yang mulia. Gelar atau sebutan Sunan digunakan oleh para raja Mataram Islam sampai kerajaan Surakarta dewasa ini. Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, Walisanga dianggap memiliki nilai kekeramatan dan kemampuankemampuan di luar kelaziman. Walisanga merupakan sembilan ulama yang merupakan pelopor dan pejuang penyiaran Islam di Jawa pada abad XV dan XVI. Masih terdapat perbedaan pendapat tentang nama-nama Walisanga. Namun yang lazim disebut sebagai Walisanga adalah sebagai berikut:

1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

2. Sunan Ampel (Raden Rahmatullah)

3. Sunan Bonang (Maulana Makhdum Ibrahim)

4. Sunan Kalijaga (Raden Mas Syahid)

5. Sunan Giri (Raden ‘Ainul Yaqin)

6. Sunan Drajat (Raden Qasim)

7. Sunan Kudus (Raden Ja’far Shadiq)

8. Sunan Muria (Raden Umar Said)

9. Sunan Gunung Jati (Raden Syarif Hidayatullah)

Walisanga diterima dengan baik oleh masyarakat, karena kedatangan para wali di tengah-tengah masyarakat Jawa tidak dipandang sebagai sebuah ancaman. Para wali menggunakan unsur-unsur budaya lama (Hindu dan Budha) sebagai media dakwah. Dengan sabar sedikit demi sedikit Walisanga memasukkan nilai-nilai ajaran Islam ke dalam unsur-unsur lama yang sudah berkembang. Perjuangan Walisanga dalam dakwah nyaris tanpa konflik, karena Walisanga sangat halus dalam mengajar masyarakat dan semua dilakukan dengan jalan damai.

1.      Syaikh Maulana Malik Ibrahim (w. 882 H/ 1419 M)

Ada perbedaan pendapat terkait asal usul Syaikh Maulana Malik Ibrahim, ada pendapat berasal dari Turki dan ada pendapat lain menyatakan berasal dari Kashan sebuah tempat di Persia (Iran) sebagaimana tercatat pada prasasti makamnya. Syaikh Maulana Malik Ibrahim adalah seorang ahli tata negara yang menjadi penasehat raja, guru para pangeran dan juga dermawan terhadap fakir miskin. Menurut Babad ing Gresik beliau datang bersama kawan-kawan dekatnya dan berlabuh di Gresik pada tahun 1293/1371 M.

Syaikh Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan Ali Zainal Abidin cicit Nabi Muhammad Saw. Syaikh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik bermukim di Gresik untuk menyiarkan ajaran Islam hingga akhir hayatnya pada tanggal 12 Rabiul awwal 822 H, bertepatan dengan 8 April 1419 M dan di makamkan di desa Gapura kota Gresik. Makamnya banyak diziarahi masyarakat hingga sekarang. Sunan Gresik dianggap sebagai penyiar Islam pertama di tanah Jawa, sehingga dianggap sebagai Ayah dari Walisanga.

2.      Sunan Ampel atau Raden Rahmat (w. 1406 M)

Raden Rahmat adalah putra cucu Raja Champa, ayahnya bernama Ibrahim As-Samarkandi yang menikah dengan Puteri Raja Champa yang bernama Dewi Candra Wulan. Raden Rahmat ke tanah Jawa langsung ke Majapahit, karena bibinya Dewi Dwara Wati diperistri Raja brawijaya, dan istri yang paling disukainya. Raden Rahmat berhenti di Tuban dan ditempat itu beliau berkenalan dengan dua tokoh masyarakat yaitu Ki Wiryo Sarojo dan Ki Bang Kuning, yang kemudian masuk Islam keduanya beserta keluarganya. Dengan masuk Islamnya Ki Wiryo Sarojo dan Ki Bang Kuning, usaha Sunan Ampel semakin mudah dalam mendekati masyarakat dan melakukan dakwah Islam, sedikit demi sedikit mengajarkan Ketauhidan dan Ibadah. Sunan Ampel wafat pada tahun 1406M. Beliau dimakamkan di Kompleks Masjid Ampel, Surabaya. Sampai sekarang makam beliau banyak dikunjungi peziarah dari berbagai derah diseluruh pelosok Indonesia.

3.      Sunan Bonang atau Makhdum Ibrahim (w.1525 M)

Raden Maulana Makhdum Ibrahim adalah putra Sunan Ampel dari istri yang bernama Dewi Candrawati. Sunan Bonang dikenal sebagai ahli Ilmu Kalam dan Ilmu Tauhid. Maulana Makhdum Ibrahim banyak belajar di Pasai, kemudian sekembalinya dari Pasai, Maulana Makhdum Ibrahim mendirikan pesantren di daerah Tuban. Santri yang belajar pada pesantren Maulana Makhdum Ibrahim, berasal dari penjuru daerah di Tanah Air.

Dalam menjalankan kegiatan dakwahnya Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) mempunyai keunikan dengan cara mengubah nama-nama dewa dengan nama-nama malaikat sebagaimana yang dikenal dalam Islam. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya persuasif terhadap penganut ajaran Hindu dan Budha yang telah lama dipeluk sebelumnya. Sunan Bonang meninggal pada tahun 1525 dan dimakamkan di Tuban, daerah pesisir utara Jawa yang menjadi basis perjuangan dakwahnya.

4.      Sunan Kalijaga atau Raden Syahid (w. abad 15)

Sunan Kalijaga mempunyai nama kecil Raden Sahid, beliau juga dijuluki Syekh Malaya. Ayahnya bernama Raden Sahur Tumenggung Wilwatikta keturunan Ranggalawe yang sudah Islam dan menjadi bupati Tuban, sedangkan ibunya bernama Dewi Nawangrum. Sunan kalijaga merupakan salah satu wali yang asli orang Jawa. Sebutan Kalijaga menurut sebagian riwayat berasal dari rangkaian bahasa Arab qadi zaka yang artinya ‘pelaksana’ dan ‘membersihkan’. Menurut pendapat masyarakat Jawa memberikan arti kata qadizaka dengan Kalijaga, yang berarti pemimpin atau pelaksana yang menegakkan kesucian atau kebersihan. Sunan Kalijaga meninggal pada pertengahan abad XV dan makamnya ada di desa Kadilangu, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

5.      Sunan Giri atau Raden ‘Ainul Yaqin (w. Abad 15)

Raden ‘Ainul Yaqin (Raden Paku) adalah putra dari Syekh Maulana Ishaq (murid Sunan Ampel). Raden ‘Ainul Yaqin dan dikenal dengan sebutan Sunan Giri. Sunan Giri merupakan saudara ipar dari Raden Fatah, di karenakan istri mereka bersaudara. Raden ‘Ainul Yaqin kecil di bawah asuhan seorang wanita kaya raya yang bernama Nyai Gede Maloka atau Nyai Ageng Tandes. Setelah menginjak dewasa, Raden ‘Ainul Yaqin menimba ilmu di Pesantren Ampel Denta (Surabaya) milik Sunan Ampel. Di sini ia bertemu dan berteman baik dengan putra Sunan Ampel yang bernama Maulana Makdum Ibrahim.

Ketika hendak melaksanakan ibadah haji bersama Sunan Bonang, keduanya menyempatkan singgah di Pasai untuk memperdalam ilmu keimanan dan tasawuf. Pada sebuah kisah diceritakan bahwa Raden Paku bisa mencapai tingkatan ilmu laduni. Dengan prestasi yang dicapainya inilah, Raden Paku juga terkenal dengan panggilan Raden ‘Ainul Yaqin. Sunan Giri meninggal sekitar awal abad ke-16, makam beliau ada di Bukit Giri, Gresik.

6.      Sunan Drajad atau Raden Qasim (w. 1522 M)

Sunan Drajad memiliki nama asli Raden Qasim. Disebut Sunan Drajad karena beliau berdakwah di daerah Drajad kecamatan Paciran Lamongan. Masyarakat juga menyebutnya sebagai Sunan Sedayu, Raden Syarifudin, Maulana Hasyim, Sunan Mayang Madu. Raden Qasim adalah putra Sunan ampel dari istri kedua yang bernama Dewi Candrawati. Raden Qasim mempunyai enam saudara seayah-seibu, diantaranya Siti Syareat (istri R. Usman Haji), Siti Mutma’innah (istri R. Muhsin), Siti Sofiah (istri R. Ahmad, Sunan Malaka) dan Raden Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang). Di samping itu, ia mempunyai dua orang saudara seayah lain ibu, yaitu Dewi Murtasiyah (istri R. Fatah) dan Dewi Murtasimah (istri Sunan Giri). Sedangkan istri Sunan Drajad, yaitu Dewi Shofiyah putri Sunan Gunung Jati.

  7. Sunan Kudus atau Raden Ja’far Shadiq (w.1550 M)

Sunan Kudus biasa juga dikenal Ja’far Sadiq atau Raden Undung, beliau juga dijuluki Raden Amir Haji sebab ia pernah bertindak sebagai pimpinan Jama’ah Haji (Amir). Dikenal sebagai seorang pujangga cerdas yang luas dan mendalam keilmuannya.

Ja’far Sadiq (Sunan Kudus) merupakan putra Raden Usman Haji yang menyebarkan agama Islam di daerah Jipang Panolan, Blora, Jawa Tengah. Dalam silsilah, Sunan Kudus masih keturunan Nabi Muhammad Saw. Tercatat detail dalam silsilah: Ja’far Sadiq bin R. Usman Haji bin Raja Pendeta bin Ibrahim as-Samarkandi bin Maulana Muhammad Jumadal Kubra bin Zaini al-Husein bin Zaini al-Kubra bin Zainul Alim bin Zainul Abidin bin Sayid Husein bin Ali ra.

Sunan Kudus juga dikenal dengan julukan wali al-ilmi, karena sangat menguasai ilmu-ilmu agama, terutama tafsir, fikih, usul fikih, tauhid, hadits, serta logika. Sunan Kudus juga dipercaya sebagai panglima perang Kesultanan Demak. Ia mendapat kepercayaan untuk mengendalikan pemerintahan di daerah Kudus, sehingga ia menjadi pemimpin pemerintahan (Bupati) sekaligus pemimpin agama. Sunan Kudus meninggal di Kudus pada tahun 1550, makamnya berada di dalam kompleks Masjid Menara Kudus.

8. Sunan Muria atau Raden Umar Said (w. abad 15)

Sunan Muria adalah putera Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama aslinya adalah Raden Umar Said, semasa kecil ia biasa dipanggil Raden Prawoto. Dikenal sebagai Sunan Muria karena pusat dakwah dan bermukim beliau di Bukit Muria. Dalam dakwah, beliau seperti ayahnya. Ibarat mengambil ikan “tidak sampai keruh airnya”. Dalam sejarah tidak diketahui secara persis tahun meninggalnya dan menurut perkiraan, Sunan Muria meninggal pada abad ke-16 dan dimakamkan di Bukit Muria, Kudus.

9. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah (w. 1570 M)

Dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati, nama asli beliau adalah Syarif Hidayatullah. Beliau adalah salah seorang dari Walisanga yang banyak memberikan kontribusi dalam menyebarkan agama Islam di pulau Jawa, khususnya di daerah Jawa Barat. Syarif Hidayatullah dikenal sebagai pendiri Kesultanan Cirebon dan Banten.

Dalam bukunya Sadjarah Banten, Hoesein Djajadiningrat menyatakan kedua nama yaitu Fatahillah dan Nurullah merupakan nama satu orang. Nama aslinya adalah Nurullah, kemudian dikenal juga dengan nama Syekh Ibnu Maulana. Nurullah yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati berasal dari Pasai. Penguasaan Portugis atas Malaka pada 1511 dan akhirnya Pasai pada tahun 1521 membuat Nurullah tidak tinggal lama di Pasai. Beliau segera berangkat ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. Setelah kembali dari Tanah Suci pada tahun 1524, lalu langsung menuju Demak dan beristri adik Sultan Trenggana.

Atas dukungan dari Sultan Trenggana, beliau berangkatlah ke Banten untuk mendirikan sebuah pemukiman muslim. Kemudian dari Banten, Nurullah melebarkan pengaruhnya ke daerah Sunda Kelapa. Di sini, pada tahun 1526 dia berhasil mengusir bangsa Portugis yang hendak mengadakan kerja sama dengan Raja Padjajaran. Berkat kemenangannya ini, Nurullah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Di Banten, beliau meninggalkan putranya yang bernama Hasanuddin untuk memimpin Banten. Sunan Gunung Jati wafat di Cirebon pada tahun 1570 dan usianya diperkiran sekitar 80 tahun. Makamnya terdapat di kompleks pemakaman Wukir Sapta Pangga di Gunung Jati, Desa Astana Cirebon, Jawa Barat.

 

KELAS XII : PERTEMUAN KE- 7 (Kerajaan Gowa - Tallo)

E. Kerajaan Gowa - Tallo

Kultur Kerajaan Gowa - Tallo tidak dapat dipisahkan dengan Islam. Setelah Kerajaan Gowa-Tallo memeluk Islam, penyebaran Islam di Sulawesi dan bagian timur Indonesia sangat pesat. Kerajaan ini adalah kerajaan yang menerapkan syariah Islam. Karena itu, wajar kalau Gowa ini dikenal sebagai “Serambi Madinah”.

Keberhasilan penyebaran Islam terjadi setelah memasuki awal Abad XVII dengan kehadiran tiga orang mubalig yang bergelar datuk dari Minangkabau. Lontara Wajo menyebutkan bahwa ketiga datuk itu datang pada permulaan Abad XVII dari Koto Tangah, Minangkabau. Mereka dikenal dengan nama Datuk Tellue (Bugis) atau Datuk Tallua (Makassar), yaitu: (1) Abdul Makmur, Khatib Tunggal, yang lebih populer dengan nama Datuk ri Bandang; (2) Sulaiman, Khatib Sulung, yang lebih populer dengan nama Datuk Patimang; (3) Abdul Jawad, Khatib Bungsu, yang lebih dikenal dengan nama Datuk Ri Tiro.

Sesampainya di Gowa, mereka memperoleh keterangan dari orang-orang Melayu yang banyak tinggal di Gowa, bahwa raja yang paling dimuliakan dan dihormati adalah Datuk Luwu’, sedangkan yang paling kuat dan berpengaruh ialah Raja Tallok dan Raja Gowa. Mereka berangkat ke Luwu untuk menemui Datuk Luwu’, La Patiware Daeng Parabu. Datuk Luwu adalah raja yang paling dihormati, karena kerajaanya dianggap kerajaan tertua dan tempat asal nenek moyang rajaraja Sulawesi Selatan. Kedatangan Datuk Tellue mendapat sambutan hangat dari Datuk Luwu’, La Patiware Daeng Parabu.

Sejak agama Islam menjadi agama resmi di GowaTallo’, Raja Gowa Sultan Alauddin makin kuat kedudukannya. Sebab, beliau juga diakui sebagai Amirul Mukminin (kepala agama Islam) dan kekuasaan Bate Salapanga diimbangi oleh Makam raja-raja Goa-Tallo Qadhi, yang menjadi wakil raja untuk urusan keagamaan bahkan oleh orang-orang Makassar, Bugis dan Mandar yang telah lebih dulu memeluk agama Islam pada abad XVI.

Sultan Alauddin dipandang sebagai pemimpin Islan di Sulawesi Selatan. Ada pendekatan unik yang dilakukan oleh oleh Sultan Alauddin dan Pembesar Kerajaan Gowa yaitu mengingatkan perjanjian persaudaraan lama antara Gowa dan negeri atau kerajaan yang takluk atau bersahabat yang berbunyi antara lain: barangsiapa di antara kita (Gowa dan sekutunya atau daerah taklukannya) melihat suatu jalan kebajikan, maka salah satu dari mereka yang melihat itu harus menyampaikan kepada pihak lainnya. Dan oleh karena Gowa sekarang sudah melihat jalan kebajikan, yaitu agama Islam, maka Kerajaan Gowa meminta kepada kerajaan-kerajaan taklukannya agar turut memeluk agama Islam

 

KELAS XII : PERTEMUAN KE- 3 (Strategi dakwah Islam di Indonesia)

C. Strategi dakwah Islam di Indonesia

Masyarakat Asia Tenggara telah mempunyai peradaban yang tinggi sebelum kedatangan Islam. Hal demikian dikarenakan kawasan Asia Tenggara terdiri dari negara-negara yang memiliki kesamaan budaya dan agama. Negara-negara ini, termasuk Indonesia telah memiliki kontak dengan peradaban bangsa India dan Cina. Tidak hanya dalam aspek peradabannya saja, tetapi juga adat istiadat, agama dan kepercayaan.

Dalam bidang sastra, ditemukan buku-buku (kitab) kuno seperti kitab suluk yang meng kisahkan perjalanan seorang sufi agar memperoleh ilmu sejati. Kitab lain adalah kitab sutasoma, kitab Negara Kertagama, dan sebagainya. Paparan tersebut menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia sebelum menerima agama Islam telah mempunyai agama dan kepercayaan yaitu agama Hindu, Budha, selain animisme dan dinamisme yang telah berkembang lama sebelumnya.

Agama Islam tersebar di seluruh wilayah Indonesia secara periodik, bertahap dan dengan strategi dakwah yang damai, menyesuaikan diri terhadap adat istiadat penduduk tanpa paksaan dan kekerasan. Strategi penyebaran agama Islam dilakukan dalam berbagai media atau jalan, baik melalui perdagangan, pernikahan, pendidikan, ajaran sufi juga memalui kesenian. Hal inilah yang menyebabkan agama Islam mudah diterima, faktor lain adalah agama Islam memberi penghargaan pada sesama manusia dengan tidak membedakan harkat derajat dan martabat. Menurut Uka Tjandra Sasmita proses masuknya Islam di Indonesia adalah sebagai berikut:

1.      Perdagangan

Strategi dakwah penyebaran agama Islam melalui media perdagangan merupakan awal proses Islamisasi di Indonesia yaitu pada abad ke-7 M hingga abad ke-16 M, bangsa Indonesia kedatangan para pedagang Islam dari Arab, Persia, dan India. Mereka melakukan kegiatan perdagangan di Indonesia dan menjalin hubungan dagang antara masyarakat Indonesia. Penyebaran agama Islam melalui perdagangan selain lebih menguntungkan juga sangat efektif dan sesuai dengan karakter masyarakat wilayah pesisir. Jalur islamisasi melalui perdagangan dikatakan menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam aktifitas ini. Para bupati di pesisir pulau Jawa banyak yang memeluk agama Islam sehingga memudahkan para pedagang muslim dalam berdakwah. Pada saat itu perdagangan internasional sebagian besar dikuasai pedagang Muslim.

2.      Perkawinan

Pedagang muslim yang masuk ke Indonesia dilihat dari segi ekonomi, mereka mempunyai status social yang lebih dibandingkan penduduk pribumi. Interaksi antara penduduk pribumi dan pedagang muslim yang intens tidak jarang diteruskan dengan adanya perkawinan antara kaum pribumi dengan para pedagang muslim. Selanjutnya dalam prosesi perkawinan pihak pribumi harus mengucapkan kalimat syahadat sehingga perkawinan ini menjadi media yang efektif dalam penyebaran agama Islam. Contoh para ulama yang melakukan pernikahan dengan masyarakay pribumi diantaranya Raden Rakhmat atau Sunan Ampel dengan Nyai Manila, perkawinan antara Sunan Gunung Jati dengan putri Kawungaten, perkawinan antara Raja Brawijaya dengan putri Campa yang beragama Islam kemudian berputera Raden Patah yang pada akhirnya menjadi raja Demak.

3.      Politik

Proses Islamisasi melalui media politik dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan antara penguasa dan pemerintahan, setelah penguasa atau rajanya masuk Islam hampir pasti rakyatnya juga masuk Islam (contoh di Maluku dan Sulawesi). Selain itu ada kerajaan Islam yang melakukan penahklukan terhadap kerajaan-kerajaan non-Islam dan kemenangan membuat masyarakat secara bertahap masuk Islam.

4.      Pendidikan

Penyebaran agama Islam melalui pendidikan yang berupa pesantren. Pesantren menjadi media yang efektif dalam proses Islamisasi di Indonesia. Pesantren selain mengajarkan ilmu agama juga ketrampilan hidup yang lain. Selain itu juga menjadi tempat menempa ilmu untuk para calon juru dakwah agama Islam. Diantara lembaga pendidikan atau pesantren pada masa awal perkembangan Islam adalah pesantren yang di dirikan sunan Ampel dan juga sunan Giri yang terkenal sampai pulau Maluku. Selain itu dilembaga pendidikan pesantren, murid yang sudah selesai belajar akan dikirim untuk berdakwah keseluruh penjuru Indonesia.

5.      Kesenian

Islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah dengan mengadakan pertunjukan seni gamelan dan wayang. Sebagaimana di ketahui bahwa kesenian wayang dan gamelan di gunakan Walisanga dalam mengembangkan ajaran Islam. Cara seperti ini banyak ditemui di Jogjakarta, Solo, Cirebon, dan lain-lain. Seni gamelan banyak digemari masyarakat Jawa dan ini tentu dapat mengundang masyarakat berkumpul dan selanjutnya dilaksanakan dakwah Islam.

6.      Tasawuf

Para Sufi mengajarkan tasawuf yang diramu dengan ajaran yang sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia. Seorang sufi biasa dikenal dengan hidup dalam kesederhanaan, mereka selalu menghayati kehidupan masyarakatnya dan hidup bersama di tengah-tengah masyarakatnya.

Banyak hal yang penting untuk diketahui mengapa agama Islam berkembang pesat dan mudah diterima oleh masyarakat Indonesia antara lain :

a. Agama Islam bersifat terbuka, sehingga penyiaran dan pengajaran agama Islam dapat dilakukan oleh setiap orang Islam.

b. Penyebaran Agama Islam dilakukan dengan cara damai.

c. Islam tidak mengenal diskriminasi dan tidak membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat.

d. Perayaan-perayaan dalam agama Islam dilakukan dengan sederhana.

e. Dalam Islam dikenal adanya kewajiban mengeluarkan zakat yang bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan kahidupan masyarakatnya dengan adanya kewajiban zakat bagi yang mampu.

 

D. Fase Penyebaran Islam di Indonesia

Dalam buku sejarah peradaban Islam sebagaimana di tulis oleh Siti Maemunah bahwa ada tiga tahap proses Islamisasi di Indonesia menurut Hasan Muarif Ambary.

1.      Tahap kehadiran pedagang Muslim (sebelum abad ke-13 M)

Pendapat masuknya masuknya Islam ke Indonesia sejak abad ke-7 M atau ke-1 H, dikemukakan oleh Syeh Syamsudin Abu Abdilah Muhammad bin Talib Ad Dimasyqi (w. 1327 M), ia menyatakan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia melalui Champa (Kamboja dan Vietnam) sejak zaman khalifah Usman bin Affan yakni sekitar tahun 651 M atau abad ke-7. Pada versi yang lain menyatakan bahwa abad ke-1 sampai ke4 H, terdapat hubungan perkawinan antara pedagang muslim dengan penduduk setempat, sehingga mereka memeluk agama Islam. Mengenai adanya makam Fatimah binti Maimun di Leran Gresik dengan angka tahun 475 H/ 1082 M bentuk batu nisan dan jiratnya menunjukkan pola gaya hias makam dari abad ke-10 M. Menurut laporan penelitian arkheologi di situs pesucian kecamatan Manyar (1994-1996) Leran di masa lampau merupakan pemukiman perkotaan dan perdagangan.

2.      Tahap terbentuknya kerajaan Islam (13-16 M)

Pada fase ini ditandai dengan munculnya pusat-pusat kerajaan Islam. Ditemukannya makam Malik al-Shaleh yang terletak di kecamatan Samudra di Aceh utara dengan angka tahun 696 H/ 1297 M merupakan bukti yang jelas adanya kerajaan Islam di Pasai. Historiografi tradisional lokal, Hikayat Raja-raja Pasai dan Sejarah Melayu Malik, menyebutkan penguasa pertama kerajaan Samudra Pasai adalah Malik al-Shalih. Akan tetapi, di Barus telah ditemukan makam seorang perempuan yang bernama Tuhar Amisuri dengan angka tahun 602 H. Hal ini membuktikan bahwa pada permulaan abad ke-13 M, sudah ada pemukiman masyarakat Islam di Barus.

Pada akhir abad ke-13 kerajaan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia merebut jalur perdagangan di Selat Malaka yang sebelumnya dikuasai oleh kerajaan Sriwijaya. Hal ini terus berlanjut hingga pada permulaan abad ke-14 berdiri kerajaan Malaka di Semenanjung Malaysia. Sultan Mansyur Syah (w. 1477 M) adalah sultan ke-enam Kerajaan Malaka yang membuat Islam sangat berkembang di Pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaka.

Akhir abad ke-15 M dan permulaan abad ke-16 M pusat-pusat perdagangan di pesisir utara, seperti Gresik, Demak, Cirebon, dan Banten telah menunjukkan kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh para wali di Jawa. Kemudian pada abad ke-16 M kegiatan itu muncul sebagai kekuatan politik dengan adanya kerajaan Demak sebagai penguasa Islam pertama di Jawa yang berhasil menyerang ibukota Majapahit. Para wali dengan bantuan kerajaan Demak, kemudian Pajang dan Mataram dapat mengembangkan Islam ke seluruh daerah-daerah penting di Jawa, bahkan di luar Jawa, seperti ke Banjarmasin, Hitu, Ternate, Tidore, dan Lombok.

3.      Tahap pelembagaan Islam

Pada fase ini para pemangku kerajaan berguru ke pusat pendidikan Islam seperti ternate yang berguru ke Giri Gresik. Agama Islam yang berpusat di Pasai tersebar luas ke Aceh di Pesisir Sumatra, Semenanjung Malaka, Demak, Gresik, Banjarmasin, dan Lombok. Bukti persebarannya ditemukan cukup banyak. Di Semenanjung Melayu ditemukan bentukbentuk nisan yang menyerupai bentuk-bentuk batu nisan Aceh. Di Kuwin Banjarmasin tepatnya di komplek Pemakaman Sultan Suriansyah (Raden Samudra) terdapat batu nisan yang mempunyai kesamaan dengan yang ada di Demak dan Gresik. Di pemakaman Seloparang terdapat sebuah batu nisan yang memiliki gaya Jawa Timur.

Islam juga tersebar ke Sulawesi, ketika Raja pertama, Raja Tallo yang menjadi mangkubumi di Kerajaan Gowa Yang bernama I Mallingkaeng Daeng Njonri Karaeng Katangka masuk Islam pada 22 September 1605 M. Kemudian ia bergelar Sultan Abdulah Awalul Islam. Penyebar Islam ke daerah Abdul Ma'mur Chatib Tunggal yang lebih terkenal dengan nama Dato ri Bandang, seorang ulama Yang berasal dari Minangkabau. Kemudian Islam tersebar ke Lombok dan Sumbawa melalui dua tahap, pertama, dari Jawa yang dilakukan oleh Sunan Prapen sekitar akhir abad ke-17 M dari Gowa. Di Kalimantan, Banjarmasin merupakan daerah yang pertama kali masuk Islam. Dalam Hikayat Banjar dinyatakan bahwa Banjar di Islamkan oleh Kerajaan Demak di Jawa sekitar tahun 1550. Kemudian di Kalimantan Timur, daerah Kutai merupakan daerah yang pertama kali mendapat pengaruh Islam dari Dato ri Bandang beserta temannya Than Tunggang Parangan, yang mengislamkan Raja Mahkota dari Kutai sekitar tahun 1575.

KELAS XII : PERTEMUAN KE- 2 (JALUR MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA)

B. JALUR MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA

Membaca sejarah peradaban bangsa Indonesia yang berkaitan masuknya Islam yang dikemukakan para ahli, tidak bisa dipisahkan dari istilah Nusantara untuk menyebut wilayah Indonesia. Penyebaran agama Islam di Indonesia pada umumnya berlangsung melalui dua proses. Pertama, penduduk pribumi berhubungan dengan agama Islam kemudian menganutnya. Kedua, orang-orang Asing Asia, seperti Arab, India, dan Cina yang telah beragama Islam bertempat tinggal secara permanen di satu wilayah Indonesia melakukan perkawinan campuran dan mengikuti gaya hidup lokal. Setidak-tidaknya ada empat teori tentang islamisasi awal di Indonesia, yaitu teori India, teori Arab, teori Persia, dan teori Cina.

1.      Teori India

Teori ini dikemukan oleh Pijnappel, Moquette, Fatimi dan seorang orientalis Belanda yang meneliti tentang Islam di Indonesia bernama Snouck Hurgronje. Ia menyatakan bahwa agama Islam baru masuk ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi yang di bawa oleh para pedagang dari Cambay, Gujarat, India. Memang sebagian besar sejarahwan asal Belanda, memegang teori bahwa Islam di Indonesia berasal dari Anak Benua India. Sementara seorang ilmuwan Barat Pijnappel yang mengkaitkan asal mula Islam di Indonesia dengan daerah Gujarat dan Malabar. Menurutnya, orang-orang Arab bermadzhab Syafi’i yang bermigrasi dan menetap di wilayah India yang membawa Islam ke Nusantara. Snouck Hurgronje kemudian mengembangkan teori ini, dia berpendapat bahwa ketika Islam tiba di beberapa kota pelabuhan Anak Benua India, banyak di antara penduduknya yang beragama Islam dan tinggal di sana sebagai pedagang perantara dalam perdagangan Timur Tengah dengan Indonesia. Lalu mereka datang ke dunia Melayu (Indonesia) sebagai para penyebar Islam pertama, setelah itu disusul oleh orang-orang Arab. Dia mengatakan bahwa abad ke-12 sebagai periode paling mungkin dari permulaan penyebaran Islam di Indonesia.

Jan Pijnappel (w.1901 M) adalah seorang orientalis dari Universitas Leiden Belanda yang fokus pada manuskrip Melayu. Dia menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia lewat pedagang dari Gujarat. Penjelasan ini didasarkan pada seringnya kedua wilayah India dan Indonesia ini disebut dalam sejarah Nusantara klasik. Dalam penjelasan lebih lanjut, Pijnapel menyampaikan logika terbalik, yaitu bahwa meskipun Islam di Nusantara dianggap sebagai hasil kegiatan orang-orang Arab, tetapi hal ini tidak langsung datang dari Arab, melainkan dari India, terutama dari pesisir barat, dari Gujarat dan Malabar. Jika logika ini dibalik, maka dapat dinyatakan bahwa meskipun Islam di Nusantara berasal dari India, sesungguhnya ia dibawa oleh orang-orang Arab juga.

Sedangkan menurut Maquette ada hubungan antara Gujarat dan Indonesia, dengan alasan bahwa batu nisan makam Raja Malik Al-Saleh yang merupakan raja kerajaan Samudera Pasai Aceh, bertuliskan angka tahun 686H/1297 M dengan menggunakan nisan yang berasal dari Gujarat India. Selain itu batu nisan yang terdapat di makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur, juga menunjukkan hal yang sama. Kedua batu nisan tersebut memiliki persamaan bentuk dengan batu nisan yang terdapat di Cambay Gujarat India.

2.      Teori Arab

Teori ini di kemukakan oleh Sir Thomas Arnold, ia berpandangan bahwa, para pedagang Arab telah menyebarkan Islam ketika mereka menguasai secara dominan perdagangan Barat-Timur sejak abad-abad awal Hijriah atau abad ke-7 dan 8 Masehi. Meskipun tidak terdapat catatan-catatan sejarah tentang kegiatan mereka dalam penyebaran Islam, namun ia berasumsi bahwa mereka juga terlibat dalam penyebaran Islam kepada penduduk lokal di Indonesia.

Dalam sejarah masuknya Islam ke Indonesia Teori ini mengatakan bahwa Islam datang ke Indonesia secara langsung dari Arab, tidak melalui perantara bangsa lain. Beberapa bukti sejarah dikemukakan untuk menguatkan teori ini. Teori ini mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia langsung dari Makkah (Arab) sebagai pusat agama Islam sejak abad ke-7. Salah satu sejarawan yang mendukung teori ini ialah Prof. Hamka. Dia menyatakan bahwa Islam sudah datang ke Indonesia pada abad pertama Hijriah (abad ke 7-8 M) langsung dari Arab dengan bukti jalur perdagangan yang ramai dan bersifat internasional sudah dimulai melalui selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di China (Asia Timur), Sriwijaya di Asia Tenggara, dan Bani Umayyah di Asia Barat. Menurutnya, motivasi awal kedatangan orang Arab tidak dilandasi oleh nilainilai ekonomi, melainkan didorong oleh motivasi spirit penyebaran agama Islam.

Dalam pandangan Hamka, jalur perdagangan antara Indonesia dengan Arab telah berlangsung jauh sebelum tarikh Masehi. Hamka berpendapat bahwa pada tahun 625 M, berdasarkan sebuah naskah Tiongkok yang dicatat oleh pendeta Budha I-Tsing yang melakukan perjalanan dari Canton menuju India. Perjalanan tersebut menggunakan kapal Posse, dan pada tahun 674 M ia singgah di Bhoga (yang sekarang dikenal dengan Palembang, Sumatera Selatan). Di Bhoga ia menemukan sekelompok bangsa Arab yang telah bermukim di pantai Barat Sumatera (Barus). Sebagian orang-orang Arab ini diceritakan melakukan perkawinan dengan wanita lokal. Komunitas Arab ini disebutnya sebagai komunitas Ta-Shih dan Posse. Mereka adalah para pedagang yang telah lama menjalin hubungan perdagangan dengan kerajaan Sriwijaya. Karena demi hubungan perdagangan itulah kemudian kerajaan Sriwijaya memberikan daerah khusus untuk mereka.

Sejarawan lain juga mendukung teori Arab adalah Uka Tjandrasasmita, A. Hasymi, Azyumardi Azra dan lain-lain. Selain informasi tersebut, Azyumardi Azra menambahkan, bahwa ditemukannya adaptasi lain yang dilakukan oleh bangsa Indonesia adalah atas pengaruh bangsa Arab ini. Misalnya dari segi bahasa dan tradisi, seperti pada kata dan tradisi bersila yang sering dilakukan oleh bangsa Indonesia yang merupakan tradisi yang dilakukan oleh bangsa Arab atau Persia yang egaliter. Disamping alasan di atas, makam Fatimah Binti Maimun di Leran Jawa Timur semakin menguatkan teori ini. Fatimah binti Maimun bin Hibatullah adalah seorang perempuan beragama Islam yang wafat pada hari Jumat, 7 Rajab 475 Hijriyah (2 Desember 1082 M). Inskripsi nisan terdiri dari tujuh baris, dan berikut ini adalah hasil bacaan Jean Piere Moquette yang diterjemahkan oleh Muh. Yamin terhadap tulisan pada batu Nisan tersebut: Atas nama Tuhan Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah. Tiap-tiap makhluk yang hidup di atas bumi itu bersifat fana. Tetapi wajah Tuhan-mu yang bersemarak dan gemilang itu tetap kekal adanya. Inilah kuburan wanita yang menjadi syahid bernama Fatimah binti Maimun. Putera Hibatu’llah yang berpulang pada hari Jumiyad ketika tujuh. Sudah berlewat bulan Rajab dan pada tahun 495 H/ 475 H, Yang menjadi kemurahan Tuhan Allah Yang Maha Tinggi Beserta Rasulnya yang Mulia.

Azyumardi Azra menambahkan, Islam datang di Indonesia pada abad ke-7 M, namun baru dianut secara terbatas oleh para pedagang Arab yang berdagang di Indonesia, dan baru mulai tersebar dan dianut oleh masyarakat Indonesia pada abad ke-12, yang disebarkan oleh para sufi pengembara yang berasal dari Arab. Alasan ini dikuatkan oleh corak Islam awal yang dianut oleh masyarakat Indonesia adalah Islam bercorak sufistik, karena pada masa al-Ghazali (Dinasti Abbasiyah) muncul sufi-sufi pengembara yang bertujuan untuk menyebarkan Islam tanpa pamrih, maka sufi-sufi inilah yang disinyalir datang dan menyebarkan Islam di Indonesia.

3.      Teori Persia

Sejarawan Hoesein Djajaningrat adalah orang yang mengemukakan teori ini. Dalam Teori ini dinyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke13 M di Sumatra yang berpusat di Samudra Pasai. Teori Persia lebih menitik beratkan tinjauannya pada aspek persamaan kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat Islam Indonesia dengan Persia. Bukti-bukti persamaan tersebut di antaranya:

a. Adanya peringatan 10 Muharram atau ‘Asyura atas meninggalnya Husein cucu Nabi Muhammad Saw di Karbala, yang sangat dijunjung oleh kaum muslim Syiah di Iran (Persia). Di Sumatra Barat, peringatan tersebut disebut dengan upacara keranda Tabut yaitu mengarak keranda yang diatas namakan keranda Husain dan disebut ‘keranda Tabut’ untuk dilempar di sungai. Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan Bubur Syuro.

b. Adanya kesamaan konsep ajaran sufisme yang dianut Syaikh Siti Jenar dengan Al-Hallaj, seorang sufi besar dari Persia.

c. Penggunaan istilah bahasa Iran (Persia) dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda-tanda bunyi harakat. Contoh Jabar – fathah, jer – kasrah, p’es - dhammah

d. Adanya persamaan batu nisan Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 M di Gresik dan Malik Al Shalih 1297 M di Pasai yang berasal dari Gujarat. Berdasarkan hal tersebut Hoesein Djajaningrat berpendapat bahwa Gujarat merupakan daerah yang mendapat pengaruh dari Persia yang menganut faham Syiah dan dibawa ke Indonesia.

4. Teori China

Teori ini menyatakan bahwa Islam datang ke Indonesia (Jawa dan Sumatra) berasal dari para perantau China. Menurut teori ini, orang China telah berhubungan dengan masyarakat Indonesia jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia. Pada masa Hindu-Buddha, etnis China atau Tiongkok telah berbaur dengan penduduk Indonesia terutama melalui kontak dagang. Bahkan, ajaran Islam telah sampai di China pada abad ke-7 M, masa di mana agama ini baru berkembang. Sumanto al-Qurtuby dalam bukunya Arus China-Islam-Jawa menyatakan, menurut kronik (sumber luar negeri) pada masa Dinasti Tang (618- 960) di daerah Kanton, Zhang-zhao, Quanzhou, dan pesisir China bagian selatan, telah terdapat sejumlah pemukiman Islam.Teori China didasarkan pada sumber luar negeri (kronik) maupun lokal (babad dan hikayat). Bahkan menurut sejumlah sumber lokal tersebut ditulis bahwa raja Islam pertama di Jawa, yakni Raden Fatah dari Bintoro Demak, merupakan keturunan China. Ibunya disebutkan berasal dari Campa, China bagian selatan (sekarang termasuk Vietnam).

Berdasarkan Sejarah Banten dan Hikayat Hasanuddin, nama dan gelar raja raja Demak beserta leluhurnya ditulis dengan menggunakan istilah China, seperti “Cek Ko Po”, “Jin Bun”, “Cek Ban Cun”, “Cun Ceh”, serta “Cu-Cu”. Nama-nama seperti “Munggul” dan “Moechoel” ditafsirkan merupakan kata lain dari Mongol, sebuah wilayah di utara China yang berbatasan dengan Rusia. Bukti-bukti lainnya adalah masjid-masjid tua yang bernilai arsitektur Tiongkok yang didirikan oleh komunitas China di berbagai tempat, terutama di Pulau Jawa. Pelabuhan penting sepanjang abad ke-15 seperti Gresik, misalnya, menurut catatan-catatan China, diduduki pertama-tama oleh para pelaut dan pedagang China. Daerah yang mula-mula menerima agama Islam adalah Pantai Barat pulau Sumatera. Dari tempat itu, Islam kemudian menyebar ke seluruh Indonesia. Pada dasarnya semua teori memiliki kelebihan dan kelemahan tidak ada kebenaran yang mutlak dari landasan teori-teori tersebut. Namun hal yang sangat penting bahwa Islam tersebar di negeri Indonesia tidak dengan jalan kekerasan melainkan dakwah dengan hikmah, nasehat yang baik.

Thursday, October 17, 2019

KELAS XII : PERTEMUAN KE-1 (SITUASI DAN KONDISI SEBELUM KEDATANGAN ISLAM)

A.    SITUASI DAN KONDISI SEBELUM KEDATANGAN ISLAM

Sebelum kedatangan Islam pada abad XV dan XVI di wilayah Nusantara terjadi perubahan sosial yang luar biasa. Perubahan sosial itu terjadi disebabkan oleh persebaran agama Islam beserta sistem politiknya yang ditandai dengan adanya perubahan keyakinan keagamaan dari masa kejayaan Hindu-Budha ke masa perkembangan agama Islam. Pada saat bersamaan bermunculan kerajaan-kerajaan Islam menggantikan posisi kerajaan Hindu-Budha. Perubahan-perubahan tersebut dilatarbelakangi berbagai faktor diantaranya letak geografis, keyakinan masyarakat, perekonomian, pemerintahan dan kesenian dan sastra. Gambaran situasi dan kondisi wilayah Indonesia sebelum kedatangan agama Islam antara lain:

1.      Letak geografis

Indonesia terletak diantara 5°54 LU sampai 11°LS dan 95°01 BT sampai 141°02 BT. Posisi itu menunjukkan bahwa wilayah ini berada di daerah khatulistiwa. Beriklim tropis dengan curah hujan tinggi. Iklim disertai angin musim menyebabkan adanya kemarau dan penghujan dengan waktu yang berbeda-beda pada tiap-tiap wilayah. Keberadaan dua musim ini memberikan pengaruh yang kompleks pada berbagai aspek kehidupan penduduk. Pertanian, pelayaran dan perdagangan erat hubungannya dengan musim. Kaitannya dengan perdagangan tidak dapat dilepaskan dari pelayaran. Sebagai wilayah kepulauan dengan posisi sebagai penghubung jalur perdagangan daratan Asia terutama antara Cina dan India menjadikan wilayah ini sebagai wilayah yang strategis dalam jalur perdagangan antar-bangsa. Hal tersebut berdampak panjang terhadap masa depan sejarah bangsa Indonesia.

2.      Keyakinan

Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Indonesia sudah menganut agama dan kepercayaan yang berbeda-beda dalam kehidupannya. Agama yang berkembang saat itu adalah agama yang berpusat pada kepercayaan adanya dewa-dewa. Dalam melaksanakan pemujaan terhadap dewa-dewa dibuat artefak keagamaan berupa bangunan atau relik.

Agama Hindu-Budha berkembang pada masa kerajaan Majapahit ditandai dengan bangunan candi yang tersebar di beberapa wilayah dengan arcaarcanya, prasasti dan kitab-kitab juga memberikan gambaran yang jelas terhadap potret keagamaan pada saat itu. Di wilayah yang lain dimana masyarakat tidak tersentuh agama Hindu-Budha, mereka masih mempertahankan Agama asli yaitu kepercayaan kepada roh-roh yang mendiami benda-benda seperti pohon, batu, sungai, gunung) dan dinamisme (kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup), dan lain-lain. Kepercayaan ini telah tumbuh dan berkembang sebelum agama Hindu-Budha masuk ke Indonesia.

3.      Politik dan Pemerintahan

Bukti-bukti tentang politik dan pemerintahan pada masa kerajaan Majapahit dengan menggunakan data-data yang telah didapatkan dari prasasti maka dapat dikemukakan bahwa bangsa Indonesia telah mengenal sistem politik dan pemerintahan jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia. Prasasti dari Kutai yang selama ini masih menjadi patokan babak dimulainya masa sejarah Indonesia dapat memberikan gambaran akan adanya sistem pemerintahan masa lalu.

Sedangkan struktur pemerintahan mulai dapat dilacak sejak masa Sriwijaya. Sejumlah prasasti menyebutkan adanya pelaksanaan dari keputusan raja dilengkapi dengan perincian saksi dan imbalan-imbalan yang diterimanya. Bukti sejarah yang tertulis dan cukup memadai di antaranya adalah Nagara Kartagama. Tulisan ini tidak lagi hanya ditulis berdasarkan pandangan tentang hal-hal yang bersifat mistis serta mitologis, tetapi juga memuat gambaran nyata tentang kondisi sosial budaya, politik, ekonomi kerajaan Majapahit. Setidaknya ini memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang politik dan pemerintahan masa menjelang berdaulatnya sebuah pemerintahan bercorak Islam.

4.      Perekonomian dan Perindustrian

Kumpulan rumah penduduk yang tersebar di lembah-lembah sungai dan dataran-dataran pegunungan dengan segala aktivitasnya merupakan pendukung utama keberlangsungan stabilitas ekonomi pemerintahan. Daerah pedalaman adalah daerah agraris yang tertutup. Perdagangan, sebagai satu aktivitas ekonomi dilakukan oleh golongan rakyat yang harus berjalan dengan pedati atau sampan untuk transportasi dalam negeri.

Pertanian merupakan tulang punggung perekonomian sebagian besar pemerintahan yang berdaulat di wilayah Nusantara. Hasil pertanian persawahan menjamin stabilitas dan persediaan makanan secara teratur. Hasil panen berasal dari masyarakat desa dan dari berbagai wilayah kekuasaan lembaga agama (mandala), atau tanah milik perseorangan atau kelompok yang dibebaskan dari pajak (sima). Upeti, pajak, dan kerja wajib diminta dari penduduk untuk kepentingan pegawai atau rumah tangga raja. Dalam hal perdagangan di Asia Tenggara. Menurut Van Leur, barang-barang yang diperdagangkan adalah yang bernilai tinggi seperti logam mulia, perhiasan, pecah belah, kain tenun, juga bahan - bahan baku untuk keperluan kerajinan. Dari data arkeologis berupa sebaran temuan keramik di sepanjang pantai utara Jawa, bahkan sampai pedalaman dan pulau Sumatera dan Sulawesi, hubungan dagang wilayah ini dengan Cina telah terjalin sejak abad IX-X M. Sepanjang pantai utara Jawa sejak abad IX M memegang peranan penting khususnya dalam bidang ekonomi.

Para pedagang asing yang datang sampai ke wilayah Majapahit berasal dari Champa, Khmer, Thailand, Burma, Srilangka, dan India." Mereka kemudian sebagian bermukim di Jawa dan bahkan ada beberapa diantaranya yang kemudian ditarik pajak. Sekitar tahun 1249 M telah terdapat dua jalur pelayaran dari dan ke Cina yaitu jalur pelayaran barat dan jalur pelayaran timur. Jawa berada dalam jalur pelayaran barat meliputi Vietnam Thailand-Malaysia-SumateraJawaBali-Timor. Kapal dagang Cina berangkat lewat jalur barat dan kembali ke Cina dengan menyusuri pantai barat daya Kalimantan.

Kehidupan perekonomian di bidang industri juga berkembang. Industri di sini meliputi industri rumah tangga, kerajinan, dan industri logam. Ada istilah undagi yang berkaitan dengan kepandaian, keahlian seseorang yang memerlukan keahlian khusus, misalnya tukang kayu atau ahli bangunan. Dalam beberapa prasasti Bali Kuno ditemukan beberapa ketrampilan membuat suatu benda (alat) dengan istilah undagi seperti undagi lancang (pembuat perahu), undagi batu (pemahat batu), undagi pengarung (pembuat terowongan), undagi kayu (tukang kayu), undagi rumah (pembuat rumah). Selain itu ditemukan juga kelompok yang disebut pande mas (pengrajin emas), pande wesi (pengrajin besi), pande tambra (pengrajin tembaga), pande kangsa (pengrajin perunggu), pande dadap (pengrajin tameng atau perisai) dan lain-lain.

5.      Sastra dan kesusastraan

Menurut Poerbatjaraka dan Zoetmulder dimana dia telah berhasil menelisik sastra Jawa itu jauh ke masa sebelum masuknya Islam ke Indonesia, pada masa Mataram Hindhu-Buddha. Kitab Mahabharata dan Ramayana sangat mungkin telah digubah ke dalam bahasa Jawa-Kuna pada permulaan abad X. Berinduk ke kedua kitab itu maka banyak ditemukan gubahan-gubahan cerita yang sangat mungkin diambil sebagian atau utuh (sargga dan parwwa) menjadi bentuk kakawin atau naskah-naskah yang lain. Bahkan seringkali naskah-naskah tersebut disesuaikan dengan kemuliaan yang ingin didapatkan oleh raja yang berkuasa ketika naskah itu digubah. Tiap - tiap daerah ditemukan deretan naskah-naskah yang sangat penting sebagai sumber sejarah. Ada Carita Parahyangan, Pararaton, Sutasoma, Nagara-kartagama, Arjunawiwaha, dan masih banyak naskah dan kitab yang lain. Kehidupan kesusastraan ketika itu tentunya juga tidak terlepas dari para pujangga sebagai penggubah dan pencipta karya sastra. Kaitannya dengan hal ini peran para brahmana dan pemuka agama sangat penting. Selain itu juga telah ditemukan adanya jabatan-jabatan yang menunjukkan adanya indikasi sebagai penulis seperti cerita sang citralekha.

KELAS XII : PERTEMUAN KE 13 (Perjuangan Umat Islam Pada Masa Penjajahan)

A. PERAN UMAT ISLAM PADA MASA PENJAJAHAN DAN KEMERDEKAAN Penjajah datang ke Indonesia sejak awal abad ke-15. Kedatangan bangsa Portugis da...